Tempat ini bisa jadi alternatif bagi Anda yang sedang mencari tempat bermalam di Kota Jogjakarta. Kalau bosan menginap di hotel, enggak ada salahnya mencoba Guest House Sastrowardoyo ini. Mungkin ada pertanyaan, apa hubungan tempat ini dengan Dian Sastrowardoyo (Dian Sastro). Ya, rumah ini aslinya memang rumah eyang buyut Dian Sastro yang sekarang dialihfungsikan menjadi penginapan. Nama anak-anak keturunan Sastrowardoyo terpampang di teras rumah. Foto-foto keluarga besar Sastrowardoyo pun menghiasi tembok dan meja di ruang keluarga. Terdapat delapan kamar penginapan di dalam rumah utama dan bangunan di luar rumah. Tempat yang bersih dan nyaman ini pun mematok harga yang enggak mahal, yaitu sekitar Rp125.000,- s/d Rp175.000,- per malam. Kamar yang saya tempati saat menginap semalam di Griya Sastrowardoyo dilengkapi double bed, kamar mandi, AC, tv, dan meja makan. Oya, breakfast yang disediakan pengelola juga sangat Jogja sekali. Yap, apalagi...
Masih lekat diingatan saya suatu kejadian sekitar tujuh tahun lalu. Di ruang dokter salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan itu kami sekeluarga mendengar penjelasan dokter dengan seksama. "Kalau tumornya ganas, mau tidak mau payudaranya harus diangkat." Itulah yang dikatakan dokter dan seketika itu juga saya enggak tahu harus apa. Ada rasa enggak rela jika hal itu benar-benar terjadi. Namun demi kesembuhan mama, kami sekeluarga pun menyetujui tindakan yang dilakukan dokter. Dan ternyata apa yang saya takutkan benar-benar terjadi. Tumor itu sudah menjadi kanker dan payudara kiri mama pun diangkat. Pasca operasi mastektomi, perjuangan mama belum usai. Ia masih harus berdamai dengan kemoterapi. Tak hanya sekali tapi 6 kali ia menjalani proses kemoterapi. Selang infus ada di tangannya, selama beberapa jam mama hanya bisa terbaring dan setelah selesai efeknya pun mulai terasa. Mual, tidak bisa makan, letupan emosi. Begitu setiap kali seusai kemoterapi...
Siang itu seorang tetangga menceritakan kisahnya pada saya. Ia sudah 10 tahun menikah dan belum dikaruniai seorang anak. Hatinya gelisah. Sudah mencoba beberapa cara tapi belum membuahkan hasil. Mentalnya masih diuji dan ketakutan menggelayutinya. "Aku belum siap kalau nanti gagal lagi, Mba Dita." Source: Pixabay Kemarin saya membaca blog Koko Edward Suhadi. Di salah satu tulisannya, ia menceritakan kegelisahan hati istrinya yang menangis karena program untuk memiliki anak kembali gagal. Tulisan blognya ada di tautan ini . Siapa yang tidak sedih jika harapan yang begitu diidamkan belum bisa terwujud. Namun apa yang ditulis Ko Edward di blognya membuat perspektif baru buat saya. Alih-alih terus meratapi, tulisannya justru membangun hal yang positif. "Dalam hidup, kita tidak akan pernah sampai. Yes, we will never truly arrive!"
Komentar
Posting Komentar